roman ke tiga-belas

October 7, 2010 § Leave a comment

; اونتوق ساودارا ذوهاي اماني يڠ دکاسيهي

 

sudahkah aku ceritakan kepadamu, tentang sebuah malam yang penuh dengan gisik mandolin dari sebuah radio lama, dihiasi dengan liuk rintih cengkerik bandar dan segar bunga rumput selepas hujan? dipeluk dengan dinginnya angin malam yang menyapa lembut disetiap helaian rambutku, dihari ke tiga-belas tanpa nama? tentang antalogi sebuah malam yang tak pernah sekali aku rencanakan dengan apa apa plot, yang diakhirnya ada konklusi yang amat gratis bahkan semua penantianku dan pencarianmu bersatu dihujung yang nyata? :’]

 

selamat malam kaseh, semoga jumpa engkau disana- disebuah tempat yang tiada garis antara jaga dan mimpi. selamat malam.

 

hazel zazali

memoir untuk jane

October 7, 2010 § Leave a comment

Pemujaan ini telah berakir, Jane. Bibir merah munggil kau yang aku simpan dicelah sofa, tak lagi menggoda. Cuma kadang kala cocok disimpan diranjang untuk berjaga jaga atau dijadikan teman ditempat tidur sahaja. Jadi pulang, Jane. Dan berhenti mengatuk pintu rumahku. Ada bibir baru sedang nyenyak tidur di sofa itu, yang kau pernah disitu dulu. Tapi maaf, Jane. Siapa yang kelak tahu bila burung yang sama tak berkicau disana, terbang diatas kita, kelmarin, lalu mampir kembali dikala senja? Pagi hari ini aku beku bangkit dari ranjang seperti tiada apa apa disisi. Cuma monolog diri dalam pegun. Dan dalam sepi aku menatap diri sendiri, dan menghadap diri sendiri, dan telanjang dalam jiwa, sendiri. Bibir baru tak semesra kau, Jane. Bibir baru sangat dingin, Jane! Sungguh aku masih boleh terdengar tawamu, masih aku terngingang simpulan senyummu, Jane. Pulanglah, Jane. Dan kalau tak keterlaluan aku pinta untuk selamanya. Dendam yang kau sedap sedapkan pasti akan basi. Berlapukan dalam pegang, dalam tamur gelap pandang. Pasti.

 

hazel zazali

oh ya,

October 7, 2010 § 1 Comment

ada yang jauh lebih surga dari

genggaman jemarimu didadaku kayak menggenggam nyawamu sendiri,

atau barangkali merasai dengusan hela nafasmu dipipiku,

serta bahang pelukan dan sentuhan berahimu dikala subuh subuh kala——

 

tidur.

 

 

 

hazel zazali

 

hush,helpless.

October 7, 2010 § Leave a comment

Roh ini aku kira barangkali ada tersangkut dimana mana. Mungkin dicelah dedahan dan diselindung berbalik daunan. ideologi otak yang kadang kala tenteram dan kadang kala bersepah. Helpless, masih juga dirantai dengan soal soal perasaan yang tak sudah.ada yang cuba jenguk kedalam dunia aku,katanya ingin pastikan ada fiesta apa didalam. tapi kesemuanya berpatah balik ‘dalam sangat, aku tak mampu’. 22 tahun aku bernafas dan masih lagi pogah mencari jawapan tentang kehidupan.
…………………………………………………
Disana, mungkin mereka sedang menghafal doa, agar terbentang payung di langit kota kuala ini. Dan aku pula masih pegun di anekdot ini. Titah titah ini merantai roh, untuk tempoh yang terlalu lama. Baki baki barah yang masih subur. O gusti, apa artinya manusia?

 

hazel zazali

mythology of interest (v.02)

October 7, 2010 § Leave a comment

Aku ingin jadi likuit merah yang mengalir dalam setiap urat-urat darahmu. Agar aku bisa merayap disegenap pepenjuru tubuhmu, mengkontaminasi cecair suci itu dengan candu cintaku,mengalirkan arus cinta berkilo-kilo voltan nilainya..mencium atriummu, sambil aku bawakan molekul hidrogen-2-oksigen untuk kau terus berdiri ; agar kau bisa mendeburkan suara-suara jantungmu untuk menghiburkan aku, agar setiap nafas yang kau hela ada terpalit nama aku walau sekecil base cytosine sekalipun. Dan, segalanya kau lagukan dari bibir itu menjadi sebuah rondan pemutar biji tasbih dengan suara yang merdu dan nyaring; membisik mantra-mantra dan kuliah cinta kau ditelingaku…

Mungkin pintaku agak keterlaulan, atau ini mungkin hanya kata-kata yang aku pungut dari langit, pesisir, jalanan, dan yang terdampar di tepian, terserak dipelantaran – lalu aku metaforakan menjadi sekeping bait indah untuk kamu,hadiah untuk kamu dikala menanti sore, tetapi ya, pengemis ini hanya butuh cinta kamu. kamu dan hanya kamu—-

hazel zazali

fundermantalis?

October 7, 2010 § Leave a comment

Tona yang makin kelam
Ditusuk pula cantel yang menghujan
Tersekat di senja sesal,
Tidak pula siang tidak pula malam
Dan asap jorong jorong pekat yang meracun setiap pernafasan, jadi loya dan lantas muntah
Seterusnya berseleraklah picisan sedih dan ketawa
Ditaris jiwa yang lasam

Matahari, jangan biar senja….

Dan engkau yang memegang busur
Ya, aku sedang cedera tenat diseluruhnya

 

hazel zazali

tiga petang

October 7, 2010 § Leave a comment

Larikan keduanya sejauh angkasa..
Jangan harap mampu bawa rasa ini ke mana-mana,
Sudah sebati gaulnya

hazel zazali 03.03pm,july 29 2010
kuala lumpur